sedang memuat...

Menu

MEMASANG TANGKI AIR DI RUMAH | AGORA DESIGN BALI

ArtikelMembangun & Bangunan › MEMASANG TANGKI AIR DI RUMAH | AGORA DESIGN BALI

MEMASANG TANGKI AIR DI RUMAH | AGORA DESIGN BALI

Tangki air, bagi saya, merupakan salah satu perangkat yang memiliki peran penting untuk diusahakan keberadaannya di rumah. Fungsinya sangat sederhana, yaitu sebagai media / wadah penyimpan cadangan air bersih.

Namun, jika diperhatikan secara seksama, manfaat yang dapat diperoleh oleh penghuni rumah pemakai tangki air, lebih dari sekedar tetap tersedianya air bersih untuk selang waktu tertentu ketika pasokan air dari PAM / PDAM terhenti. Salah satu manfaat yang cukup besar tetapi luput dari perhatian adalah menjadikan fisik rangkaian pemipaan air di rumah tetap terjaga keawetan-nya.

Adakah hal-hal yang perlu diperhatikan seandainya kita hendak memasang tangki air di rumah?

Kapasitas tangki air

Tangki air, atau lebih populer dengan sebutan tandon / toren, diproduksi dalam beberapa kapasitas. Anda bisa menemukan berbagai ukuran kapasitas dari tandon air di situs / blog yang menjualnya. Atau, dapat juga menghitungnya sendiri, terutama bagi yang telah memasangnya di rumah.

Pertanyaannya, berapa kapasitas tandon air yang kita butuhkan di rumah?

Pertanyaan yang terlihat sepele. Awalnya, saya pun menganggap pertanyaan seperti itu terlalu berlebihan. Namun, setelah beberapa tahun kemudian, saya baru memerhatikan bahwa terselip kebenaran dari pertanyaan tersebut. Pada saat pasokan air PAM terhenti, banyak pemilik rumah yang kelimpunganmencari tambahan cadangan air bersih karena air dalam tangki mereka sudah habis terpakai. Setelah beberapa kali mendapatkan kejadian serupa, saya melihat, perlu untuk memperhitungkan besar kapasitas tangki air yang seharusnya terpasang di sebuah rumah.

Saya pernah membahas mengenai jumlah rata-rata kebutuhan air seseorang dalam sehari, yaitu 233 liter per hari. Nilai ini bisa digunakan sebagai standar kebutuhan pemakaian dalam sehari dalam kondisi ideal. Bagaimana rupa / wujud dari kondisi “ideal” yang di maksud? Hanya berupa garis besar pemakaian untuk memenuhi kebutuhan utama sehari-hari saja. Pada prakteknya, rata-rata pemakaian air satu orang dengan lainnya memang berbeda, tetapi nilainya tidak terpaut jauh.

Namun demikian, ada satu keadaan yang (umumnya) terjadi sekali dalam sebulan dengan jumlah pemakaian air yang cukup besar, yaitu periode masa “menstruasi” pada perempuan dewasa. Ini adalah satu situasi yang “terlihat normal”, tetapi (sebenarnya) memerlukan perhatian dan perlakuan yang “cukup istimewa”.

Merupakan satu kesalahan seandainya ada pemikiran yang meremehkan hal tersebut. Situasi yang demikian, sudah pasti terjadi pada seorang perempuan dewasa selama satu periode – sekali dalam sebulan. Dibutuhkan volume air dalam jumlah cukup besar selama masa periode itu berlangsung, dan (apa pun alasannya) tetap harus dipenuhi. Ini adalah kondisi “normal” dan “seharusnya terjadi” dari kebutuhan akan air bagi seorang perempuan. Jangan pernah berpikir untuk meremehkan, apalagi hingga mengabaikannya.

Jadi…, berapa jumlah air yang sebenarnya kita perlukan? Kita dapat menggunakan standar nilai 233 liter per hari namun dengan catatan harus tersedia juga nilai cadangannya.

Misalnya, untuk mencadangkan kebutuhan pemakaian air secara umum bagi satu orang di sebuah rumah dalam sehari, perlu dipersiapkan wadah untuk menampung volume air sebanyak 233 liter. Untuk seorang perempuan, perlu dipersiapkan wadah yang bisa menampung volume air kira-kira 1/4 lebih besar dari 233 liter atau 1/4 x 233 = 58,25 liter. Sehingga, besaran kapasitas volume wadah penampung cadangan air yang perlu dipersiapkan untuk seorang perempuan adalah 233 + 58,25 = 291,25 liter. Nilai 1/4 ini saya hitung berdasarkan perkiraan rata-rata lama waktu masa periode berlangsungnya menstruasi selama 1 minggu dalam sebulan, yang mana dalam satu bulan terdiri dari 4 minggu.

Rumah dengan jumlah penghuni sebanyak 4 orang, akan memerlukan standar kapasitas wadah penampung cadangan air sebesar 4 x 233 = 932 liter. Jika 3 dari 4 penghuni rumah adalah perempuan, maka diperlukan wadah penampung cadangan air dengan kapasitas lebih besar 58,25 x 3 = 174,75 liter (dibulatkan menjadi 175 liter) dari 932 liter. Sehingga, total kapasitas wadah penampung cadangan air yang dibutuhkan sebenarnya adalah 932 + 175 = 1.107 liter. Itulah nilai kapasitas minimum dari tandon air yang dibutuhkan. Anda bisa menghitungnya sendiri sesuai dengan kondisi penghuni di rumah saat ini.

Seandainya kita menginginkan untuk bisa memiliki cadangan air yang bisa mem-backup terhentinya pasokan air PAM selama 24 jam, nilai minimum kapasitas tangki air yang telah dihitung cukup dikalikan dengan 2 (dua). Dimana, dalam contoh di atas menjadi 1.107 x 2 = 2.214 liter. Pemahaman dari “bisa mem-backup selama 24 jam” adalah minimum waktu yang tersedia untuk kita supaya bisa mendapatkan dan menggunakan air secara normal. Pada prakteknya, air yang tersedia untuk itu bisa untuk pemakaian melebihi waktu 24 jam. Karena, ada jeda waktu dimana tidak terjadi pemakaian air, yaitu di saat kita sedang tidur.

Membuat instalasi tangki untuk mencadangkan air sebanyak 2.214 liter, bukan berarti harus dengan menggunakan “satu” tangki berkapasitas minimum 2.214 liter. Kita tidak perlu terpaku untuk menyediakan “satu” tangki air berkapasitas minimum sebesar itu. Kita bisa membagi menjadi dua tangki berkapasitas 1.107 liter atau bahkan tiga hingga empat unit tangki dengan total kapasitas seluruh tangki mencapai sebesar 2.214 liter. Kemudian, tinggal mengatur teknik pemipaan yang menghubungkan antar tangki-tangki tersebut hingga akhirnya terhubung dengan jaringan pipa dalam rumah.

Bagaimana jika hanya menggunakan satu atau beberapa tangki air dengan total kapasitas 1.107 liter saja? Berapa banyak sisa air yang bisa tersedia di saat pasokan air PAM terhenti?

Berada di kisaran 500 liter untuk waktu pemakaian normal antara 6 hingga 12 jam.

Posisi ketinggian tangki air

Menentukan letak posisi tangki air merupakan hal yang, bisa di bilang, “gampang-gampang susah”. Mengapa? Sebagaimana fungsinya sebagai wadah untuk menyimpan cadangan air bersih, tangki air dapat diletakkan dimana saja. Selama berada di atas permukaan area yang rata dan kuat untuk menahan beban kuantitas air yang dikandungnya, tidak akan ada masalah berarti. Tetapi, hal tersebut mulai menjadi rumit saat kita hendak menggunakan cadangan air bersih yang terdapat di dalamnya.

Kekuatan tekanan semburan air yang dikeluarkan dari dalam tangki, sangat bergantung pada dua hal : kuantitas air dan posisi ketinggian tangki. Jadi, jika kita sebelumnya mengandalkan tekanan air berdasarkan kekuatan aliran air yang di distribusikan oleh PAM, maka pada kasus penggunaan tangki air kita harus bisa menciptakan sendiri kekuatan tekanan air tersebut. Pompa air merupakan solusi terbaik untuk mengatasi masalah lemahnya kekuatan tekanan air yang dihasilkan dari tangki air. Namun demikian, dalam praktek sehari-hari, pemakaian air secara umum di rumah tidak selalu membutuhkan tekanan air yang kuat.

Secara garis besar, ada tiga kondisi tekanan air yang dihasilkan dari tangki air berdasarkan posisi peletakan ketinggian tangki air itu sendiri tanpa bantuan pompa / mesin air. Penentuan posisi ketinggian ini berdasarkan rentang jarak antara dua titik, yaitu : titik keluaran keran air dalam rumah dengan titik keluaran air di bagian bawah tangki air.

Deskripsi posisi ketinggian tangki air di bawah ini, di dasarkan menggunakan tangki air berkapasitas 500 liter (0,5 m³). Untuk kapasitas tangki di atas itu, maka kekuatan tekanan air yang dihasilkan akan lebih besar. Dan, kondisi sebaliknya akan terjadi pada tangki berkapasitas di bawah 500 liter :

1. Jarak 2 ~ 3 meter.

Tekanan air yang dihasilkan sangat rendah. Bisa dikatakan hanya berguna pada skala membasuh atau membuat sesuatu menjadi basah. Bukan mencuci atau membersihkan sesuatu dari kotoran. Walau pun bisa digunakan untuk keperluan mencuci, tetap dibutuhkan bantuan tenaga manusia agar kotoran dapat terlepas dengan mudah. Keuntungan yang bisa diperoleh dari tekanan air seperti ini adalah jumlah pemakaian air relatif lebih sedikit. Atau bisa disebut dengan “hemat air”, karena jumlah keluaran air yang dihasilkan berada pada kisaran 3 – 5 liter per menit.

2. Jarak 4 ~ 6 meter.

Tekanan air pada rentang jarak ini bisa disebut ideal. Tingkat kekuatan tekanan air yang dihasilkan mampu untuk “melontarkan” air (menggunakan nozzle) hingga jarak 5 – 6 meter dari titik keluaran keran air. Kekuatan seperti itu akan memudahkan saat air digunakan untuk keperluan mencuci mobil atau membersihkan / menyapu kotoran di sekitar area bagian luar rumah. Disamping itu, karena tekanan yang dihasilkan tanpa menggunakan bantuan pompa air, maka jumlah air yang dikeluarkan pun relatif lebih sedikit dibandingkan dengan menggunakan pompa air. Namun demikian, meski memiliki kekuatan, tekanan air pada rentang jarak ini tidak dapat diandalkan untuk menghidupkan pemanas air (water heater).

3. Jarak 7 meter – diatasnya.

Mulai jarak ketinggian tangki 7 meter dari posisi letak keluaran air, kekuatan tekanan air yang dihasilkan mampu untuk menyalakan water heater. Sangat menyenangkan memiliki kondisi tekanan air seperti ini, karena kekuatan tekanan air bisa digunakan untuk hampir segala kebutuhan tanpa bantuan pompa air. Tetapi, harus kita ingat juga, bahwa semakin tinggi tekanan air yang dihasilkan, maka semakin banyak jumlah liter air per menit yang dikeluarkan. Jadi, kita harus menyikapi dengan bijaksana pemakaian air pada tingkat kekuatan ini, karena memiliki kecenderungan membuat pemakaian air menjadi boros.

Diantara ketiga posisi deskripsi ketinggian tangki di atas, pilihan posisi nomor 1 dan 2 cenderung banyak digunakan di rumah tinggal. Alasan terbesar-nya adalah sama, yaitu lebih mudah menangani perawatan dan pemeliharaan tangki. Semakin tinggi posisi tangki air, semakin sulit untuk menangani perawatan dan pemeliharaannya. Untuk masalah kekuatan tekanan air, bisa disiasati dengan menggunakan pompa air, yang biasanya juga hanya untuk memenuhi satu tujuan yang sama, yaitu menyalakan water heater.

Jadi… mana diantara ketiga pilihan posisi ketinggian tersebut yang paling ideal untuk diterapkan di rumah? Parameter yang terutama harus dijadikan pedoman untuk itu adalah sebuah kondisi dimana anda bisa mengerjakan seluruh pemeliharaan dan perawatan tangki air secara mandiri. Tanpa bantuan orang lain. Dengan demikian, anda menghilangkan ketergantungan pada pihak di luar saat kondisi air dalam tangki membutuhkan penanganan secara cepat. Karena, kebutuhan akan air bersih yang kita gunakan setiap hari, menurut saya, tidak bisa menunggu / menyesuaikan dengan waktu kesibukan orang lain.

Tidak ada data perhitungan secara ilmiah dari definisi kekuatan tekanan air berdasarkan letak posisi ketinggian tangki air sebagaimana telah diterangkan di atas. Semua itu diperoleh dari pengalaman saat mengikuti seorang pemborong yang sedang mengerjakan proyek pembangunan beberapa rumah tinggal. Ada 3 rumah berbeda kondisi yang saya ikuti perkembangan teknik pemipaan air-nya. Mulai dari awal hingga akhir. Berdasarkan perbandingan ke-3 rumah itulah saya menyimpulkan definisi kekuatan tekanan air di atas.

Kekuatan struktur rumah menahan beban

Saya tidak memiliki kapasitas memadai untuk mendeskripsikan keterkaitan hal yang satu ini dengan letak ketinggian tangki air di sebuah rumah. Logika sederhana yang ada di pikiran saya adalah semakin tinggi letak posisi tangki air, maka semakin berat beban yang dihasilkan. Jadi, jika kita hendak membuat menara sebagai tempat meletakan tangki air, dibutuhkan struktur fondasi atau bangunan rumah yang lebih kuat dibandingkan tanpa menggunakan menara.

Seandainya anda hendak meletakkan tangki air pada satu lokasi yang cukup tinggi di rumah, namun meragukan kekuatan struktur rumah dalam menahan beban tangki beserta kandungan air di dalamnya, lebih baik gunakan kapasitas tangki air yang lebih kecil. Anda bisa membuat / menyediakan tempat di bawah atau di atas permukaan tanah / lantai rumah untuk meletakkan tangki berkapasitas lebih besar sebagai pendukung ketersediaan air di tangki bagian atas.

sumber : https://listrikdirumah.com/memasang-tangki-air-di-rumah/